Satu Kendaraan, Satu Pengemudi

Setiap kendaraan hanya mempunyai satu pengemudi. Pesawat yang mempunyai dua alat kemudi pun hanya dikendalikan oleh satu pengemudi bernama pilot. Orang yang duduk di samping pilot dinamakan co-pilot. Dan jika dalam keadaan darurat, seorang pilot bisa mengemudikan pesawat sendirian. 

Tak terbayang apa yang terjadi jika ada kendaraan yang mempunyai dua pengemudi. Selain tujuannya bisa berbeda, pengoperasian kendaraan pun bisa berbeda pula. Dan itu berbahaya. 


Perihal kendaraan dan pengemudi tak beda halnya dengan rumah tangga. Jika kamu tinggal bersama orang tuamu, pasti ada salah satu dari mereka yang “mengemudikan” kendaraan yang bernama rumah tangga. Dan satu orang tua yang lain bertugas sebagai navigator. 


Sebagian  besar pengemudi rumah tangga adalah seorang Ayah. Dia yang memegang semua kendali kendaraan. Mulai dari setir kemudi, gas, maupun rem. 


Walaupun seorang Ayah bisa mengendarai kendaraannya sendirian, namun akan lebih lengkap jika didampingi oleh seorang navigator yang duduk di sebelah pengemudi. Inilah peran seorang Ibu.

 

Tugasnya tak kalah penting dari seorang pengemudi walaupun tak memegang kendali secara langsung. Mereka saling melengkapi. Jika pengemudi lelah, navigator harus mengingatkan untuk istirahat. Bahkan ketika salah tujuan, dia juga harus menegur pengemudi untuk kembali ke jalan dan tujuan yang telah disepakati bersama-sama sebelumnya. 


Perlu dipahami bahwa satu rumah, hanya ada satu pengemudi. Ayah atau Ibumu. Tidak bisa keduanya menjadi pengemudi semua. Konflik lah yang akan terjadi. 


Jika kamu sudah mengetahui siapa pengemudi dan navigator di “kendaraan” bernama rumah maka semua harus sadar akan peran masing-masing. 


Jika kamu mempunyai peran sebagai penumpang, jadilah penumpang yang baik. Kamu harus mempunyai satu tujuan yang sama dengan pengemudi. Jika tujuanmu berbeda maka kamu harus menanyakan kembali tujuan itu. Dan jika memang tujuannya sangatlah berbeda, maka beranikanlah dirimu turun dan keluar dari kendaraan itu. Karena jika kamu tetap berada di kendaraan itu, kamu tak akan pernah sampai di tujuanmu sendiri. 


Bagi kamu yang sudah menikah dan masih tinggal satu rumah dengan orang tua maupun mertua, sadarilah peranmu. Jika kamu laki-laki, kamu memanglah menjadi imam atau pengemudi dari rumah tanggamu. Namun sadari kembali, kamu masih menumpang di kendaraan yang sama dengan orang tua atau mertuamu. Yang artinya, satu kendaraan hanya ada satu pengemudi. Bisa jadi salah satu dari orang tuamu, atau salah satu dari mertuamu.


Walaupun kamu bisa mengemudi sendiri, tetapi jika kamu masih hidup menumpang di kendaraan orang lain, peranmu tak lain adalah penumpang. Tak lebih dari itu. Dan seperti yang dijelaskan di atas, jadilah penumpang yang baik. Janganlah mengambil alih kemudi, karena konflik akan terjadi. 


Seorang penumpang hanya boleh bertanya ke mana tujuan dari kendaraan ini. Jika kamu mempunyai satu tujuan yang sama, maka bolehlah berada di satu kendaraan.


Namun jika sudah berbeda tujuan, berbeda jalan yang dipilih, maupun tidak suka dengan cara mengemudinya, kamu tahu apa yang harus dilakukan. Beranikan diri untuk keluar dan turun dari kendaraan tersebut dan mulailah perjalananmu sendiri bersama keluarga kecilmu dengan kamu sebagai pengemudi dan istrimu sebagai navigatornya.  


Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian

Jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama


John F Kennedy


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan : Jurang yang Menyatukan

Yang Masih Menganggap Pacaran Itu Perlu, Baca Ini Dulu